jump to navigation

Harapan Itu Bernama Industri Ekonomi Kreatif November 26, 2008

Posted by zakyalhamzah in Ekonomi.
add a comment

 

Zaky Al Hamzah
Wartawan Republika

“Pemerintah menyadari, saat ini ekonomi kreatif telah menjadi salah satu lokomotif perekonomian Indonesia. Ini terlihat dari pergeseran sektor pertanian, industri, jasa ke ekonomi kreatif.”

“Jadikan krisis menjadi peluang,’‘ demikian pesan penting yang disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat membuka Trade Expo Indonesia (TEI) 2008 di Pekan Raya Jakarta (PRJ), Selasa (21/10).

Ada pesan mendalam dari ucapan itu. Di tengah ancaman krisis keuangan global, dampaknya jelas menerobos sendi perekonomian Indonesia, masyarakat, termasuk pelaku usaha. Mereka dituntut bertindak, berpikir, dan bersikap ‘kreatif’.

Ada dua makna kreatif tak hanya kreatif bagaimana menyelamatkan perusahaan dari jurang keterpurukan serta bayang-bayang pemutusan hubungan kerja (PHK)pelaku usaha dituntut mengembangan produk kreatif, dan atau mampu mengemas secara kreatif. Kendati, produk itu berbahan baku sederhana supaya tetap diterima konsumen.

Menteri Perdagangan (Mendag), Mari Elka Pangestu, meng ungkapkan, peran in dustri ekonomi kreatif tak bisa dianggap remeh. Se pan jang 2002-2006, industri krea tif Tanah Air menyumbang Rp 104,6 triliun atau 6,3 persen ter hadap produk domestik bruto (PDB); dan berkontribusi 10,6 persen dari total ekspor atau senilai Rp 81,4 triliun.

Ini tentu capaian fantastis, mengingat Singapura saja, kon tribusi industri kreatif hanya 2,8 persen terhadap PDB. Sementara Inggris mencapai 7,9 persen.

‘’Tingkat partisipasi tenaga kerja di sektor ini mencapai 5,8 persen. Pada 2001, total nilai ekonomi industri kreatif Rp 2 triliun. Nilai itu diharapkan semakin berkembang apa bila nantinya pemerintah mengeluarkan kebijakan khusus bagi industri kreatif,’‘ ungkap Mari.

Karena tak bisa dibilang kecil, pemerintah akan mendukung penuh 14 sektor industri kreatif: musik dan alat musik, periklanan, arsitektur, pasar seni dan barang antik, kerajinan, disain, fashion, film, video dan fotografi, permainan interaktif, seni pertunjukan, penerbitan dan percetakan, layanan komputer dan peranti lunak, serta radio dan televisi.

Dari 14 itu, tiga kelompok besar yang bakal menjadi primadona industri kreatif adalah fashion, kerajinan, dan kriya. Pertumbuhan industri kreatif juga bisa dilihat dari perkembangan dunia film dan musik nasional.

Film layar lebar nasional yang kini mulai bangkit mampu menarik minat masyarakat. Para pelaku usaha di industri film sukses membaca pasar sehingga film mereka banyak ditonton.

Menurutnya, ada tiga amunisi penting dalam industri kreatif yang menjadi basis per tumbuhan. Ketiganya adalah peran pemerintah membuat kebijakan dan perlindungan, peran dunia usaha men dukung perkembangan industri kreatif, dan peran aktor dalam industri kreatif.

Guna mendorong pertumbuhan industri kreatif nasional, pertengahan 2008 lalu, pemerintah mengeluarkan kebijakan berupa pemberian insentif, pengaturan pinjaman bagi pelaku industri, dan perlindungan bagi pencipta industri kreatif.

Mengapa ekonomi kreatif
Ternyata, tersimpan ribuan bahkan jutaan potensi produk kreatif yang layak dikembangkan di Tanah Air. Tengok saja potensi itu: sekitar 17.500 pulau, 400 suku bangsa, lebih dari 740 etnis (di Papua saja 270 kelompok etnis), budaya, bahasa, agama dan kondisi sosial-ekonomi.

Nilai-nilai budaya luhur (cultural heritage) yang kental terwarisi, seperti teknologi tinggi pembangunan Borobudur, batik, songket, wayang, pencak silat, dan seni bu daya lain, menjadi aset bangsa. Tercatat pula, tujuh lokasi di Indonesia yang dijadikan situs pusaka dunia (world heritage site).

Belum lagi tingkat keragaman hayati (biodiversity) yang sukar ditandingi. Begitu banyak spesies yang khas dan tak dapat dijumpai di wilayah lain di dunia, seperti komodo, orang utan, cendrawasih. Tak ketinggalan, hasil budidaya rempah-rempah, seperti cengkeh, lada, pala, jahe, kayumanis, dan kunyit.

Semua itu bila diarahkan menjadi industri ekonomi krea tif, tentu membuahkan hasil luar biasa. Apalagi, era saat ini mengarah pada ekonomi kreatif, setelah era gelombang pertanian, gelombang industri, dan gelombang informasi, seperti teori Alvin Toffler, berlalu.

‘’Pemerintah menyadari, saat ini ekonomi kreatif telah menjadi salah satu lokomotif perekonomian Indonesia. Ini terlihat dari pergeseran sektor pertanian, industri, jasa ke eko nomi kreatif,’‘ jelas Mendag.

Dalam konteks itu, pengembangan seni, inovasi teknologi, dan kewirausahaan men jadi kata kunci. Karenanya tak heran, jika di tengah kekha watiran lesunya dunia bisnis padat modal, harapan kini tertuju pada ekonomi kreatif.

Namun, upaya kreatif bagi produsen serta pelaku usaha kecil maupun menengah tak bisa berjalan sendiri. Agar target pertumbuhan ekonomi jangka pendek, menengah, hingga jangka panjang tercapai, di saat bersamaan jajaran pemerintah pusat dan daerah harus membantu.

Regulasi dan deregulasi yang mendorong produktivitas serta membunuh ekonomi biaya tinggi, tentu sangat mem bantu mereka. ‘’Ubah kri sis ini menjadi peluang,’‘ kata Presiden, mengulang.

Ekonomi Kreatif, Pariwisata, dan Tenaga Kerja

Ekonomi kreatif, kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, merupakan satu dari tiga sektor yang dapat mendorong perekonomian Indonesia di saat ekonomi dunia melambat. Dua sektor lain, yaitu pariwisata serta tenaga kerja yang handal, terampil, dan berbudaya. Tiga sektor ini, punya potensi cukup besar, keunggulan serta peluang devisa yang tinggi. ‘’Tiga bidang itu selama beberapa tahun terakhir menunjukkan kemajuan pesat. Potensinya masih ada sehingga perlu didorong untuk mencapai sasaran,’‘ ujar Presiden.

Sektor ekonomi kreatif, tambahnya, menjadi salah satu sektor yang berkontribusi cukup besar kepada negara. Terbukti dari perannya yang enam persen terhadap PDB. ‘’Sektor ekonomi kreatif kita sudah berjalan dengan benar, dan tahun ini pemerintah sudah menyusun road map-nya,’‘ kata SBY.

Kini, tinggal sinkronisasi kebijakan. ‘’Saya ingin lebih banyak yang mengenal ekonomi kreatif kita, baik di dalam maupun luar negeri. Untuk itu pen ting d ijaga momentum pertumbuhan yang baik ter sebut.’‘

Lebih jauh Presiden mengajak membangun kemitraan secara ekonomi. Kekhasan yang tinggi, mutu produk yang bagus, memberi keunggulan tersendiri bagi hasil karya Indonesia. Dengan saling mengenal produk luar negeri, akan dapat dipetakan peluang yang ada.

‘’Saya jamin produk Indonesia bagus. Tidak perlu ragu menjalin kerja sama dengan kita,’‘ kata Presiden mengajak pengusaha dari luar negeri memasarkan produk kreatif Indonesia. Sektor pariwisata, lanjutnya, menjadi sesuatu yang perlu difokuskan mengingat kekayaan dan potensi yang ada.

Mendag mengungkapkan, industri kreatif mampu menyerap tenaga kerja 5,4 juta pekerja yang tersebar pada 22 juta perusahan. Jumlah ini setaraatau 5,2 persen dari perusahaan yang ada di Indonesia.

Kepala Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN), Bachrul Chairi, menambahkan, industri kreatif nasional sudah lama menjadi program penting pemerintah. Para pelaku industri kreatif seharusnya memperoleh dukungan penuh pemerintah agar ide-ide kreatif terus berkembang.

‘’Pelaku industri kreatif jangan dipersulit ketika meminjam modal ke bank. Terlebih pelaku industri kreatif biasanya tidak memiliki jaminan khusus, mengingat barang yang diciptakan berbentuk ide bukan benda,’‘ pintanya.

Depdag menargetkan pada 2010 dapat mencetak 200 brandatau merk industri kreatif. Bachrul Chairi optimistis jumlah itu tercapai, meningat sejumlah produk kreatif seperti animasi, batik, periklanan, dan perfilman saat ini telah menjadi brandIndonesia di luar negeri.

‘’Contohnya batik yang telah menjadi ikon Indonesia, kerajinan tangan beragam bahan baku dari kayu, rotan, kulit kerang, serta plastik. Yang membanggakan lagi, film-film animasi buatan anakanak bangsa sudah banyak dipesan pelaku industri film di AS serta Jepang,’‘ katanya.

Sebagai bentuk dukungan, sekitar 700 produk hasil industri telah dipatenkan Depdag. Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) produk kreatif juga diurus pihaknya. ‘’Ini supaya produk dalam negeri terlindungi dari klaim negara lain,’‘ jelasnya.

Dirjen Industri Kecil dan Menengah Depperin, Fauzi Aziz, mengatakan, perlindungan hukum terhadap pelaku usaha industri kreatif harus ditegakkan. Salah satu upaya yang terus dijalankan adalah sosialisasi HAKI kepada pelaku usaha.

HAKI akan menjamin setiap pengusaha dari tuntutan hukum dan kerugian. Fauzi menyebutkan, identifikasi hasil industri yang belum mendaftarkan produknya terus dilakukan agar tak ada klaim negara lain.

Sejarah Ekonomi Kreatif di Indonesia

Perkembangan ekonomi kreatif di dorong dengan diluncurkannya program Indonesia Design Power (IDP) pada 2006. IDP merupakan program untuk meningkatkan daya saing produk-produk Indonesia di pasar domestik maupun ekspor.

Selama kurun waktu 10 tahun terakhir, sektor ekonomi kreatif makin berkembang pesat di beberapa kota besar. Melalui inisiatif komunitas anak muda di sejumlah kota, seperti Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta.

Benih yang memicu pertumbuhan ekonomi kreatif di tingkat lokal telah mam pu me lahirkan karya film, animasi, fashion, mu sik, software, gamekomputer, dan sebagai nya. Beberapa di antara pelaku ekonomi krea tif ini malah mendapatkan kesempatan menam pilkan karyanya di ajang internasional.

Istilah ekonomi kreatif pertama kali didengungkan tokoh bernama John Howkins, penulis buku Creative Economy, How People Make Money from Ideas.Dia seorang yang multiprofesi.

Selain sebagai pembuat film dari Inggris, ia juga aktif menyuarakan ekonomi kreatif kepada pemerintah Inggris sehingga banyak terlibat dalam diskusi-diskusi pembentukan kebijakan ekonomi kreatif di kalangan peme rintahan negara-negara Eropa.

Menurut Howkins, definisi ekonomi krea tif adalah kegiatan ekonomi di mana inputdan outputnya adalah gagasan. Tokoh berikutnya seorang doktor dibidang ekono mi, Dr Richard Florida, dari Amerika, penulis buku The Rise of Creative Classdan Cities and the Creative Class. Dia menyuarakan tentang industri kreatif dan kelas kreatif di masyarakat.

Pemenang nobel di bidang ekonomi, Robert Lucas, mengatakan kekuatan yang menggerakan pertumbuhan dan pembangunan ekonomi kota atau daerah dapat dilihat dari tingkat produktivitas klaster orangorang bertalenta dan orang-orang kreatif atau manusia-manusia yang mengandalkan kemampuan ilmu pengetahuannya.

Mendag, Mari Pangestu, menjelaskan, me lalui ekonomi kreatif inilah pemerintah terus mencari upaya pengembangan akses pasar ekspor, baik ekspor jasa maupun produk. Salah satu yang didorong pengembangan ekspor jasa adalah potensi ekono mi kreatif yang menyumbang 6,3 persen PDB dan berkontribusi 10,6 persen dari total ekspor nasional.

‘’Kendati ada kekhawatiran dalam suasana ketidakpastian perekonomian dunia, pemerintah tetap optimistis ekspor perdagang an kita tetap tumbuh signifikan,’‘ ujar Men dag pekan lalu.

Krisis ekonomi dunia akan memengaruhi perekonomian Indonesia, khususnya ekspor. Meski hingga kini pertumbuhan ekspor sampai Agustus 2008 masih 30 persen, sehinga target pertumbuhan ekspor 12,5 persen tahun ini dapat tercapai. ‘’Beberapa bulan ke depan, perlambatan ekonomi dunia mulai terasa,’‘ katanya.

Selain kebijakan fiskal, moneter, perbank an, dan pasar saham, pemerintah, kata Mendag, akan merespons pertumbuhan sektor riil. Sejumlah upaya yang dilakukan, yakni menjaga daya saing dan menfasilitasi ekspor dengan menjamin efisiensi arus barang dan arus dokumen, menekan ekonomi biaya tinggi.

Kemudian, meningkatkan efektivitas dari promosi produk dan jasa-jasa Indonesai ke luar. ‘’Pemerintah juga melakukan promosi untuk mendiversifikasi pasar dan produk secara terarah dan strategis,’‘ katanya.

Di tengah lesunya industri padat modal, industri kreatif diharapkan menjadi penyelamat perekonomian Indonesia mengingat produk itu tak bergantung 100 persen pada pasar konvensional, seperti AS, Eropa, maupun Jepang.

Contohnya, kerajinan mebel berbahan kulit kerang yang sebagian besar pasar ekspornya justru di Spanyol, Italia, Perancis, dan Jerman. Di Asia, pasar produk ini bertebaran di Korea Selatan dan Filipina.

Ketua Umum Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Aprisindo), Ambar Tjahyono, sangat mendukung upaya pemerintah mencari celah pasar ekspor di saat pasar tradisional AS, Eropa, dan Jepang, mandeg. ‘’Meski target transaksi tak tercapai, tapi upaya mencari pasar-pasar baru ini patut kita dukung.’‘

Langkah lain pemerintah, sambung Mendag, adalah melanjutkan negoisasi dan pendekatan menjamin akses pasar, mengatasi berbagai hambatan yang dihadapi eksportir dalam negeri. Pemerintah berusaha keras menjaga iklim investasi, meski pelambatan ekonomi dunia mendorong investor menunda investasinya di Indonesia.

Staf khusus Mendag yang ikut mengembangkan
cetak biru ( blue print)Industri Ekonomi Kreatif, Rhenald Kasali, mengatakan industri kreatif pada intinya membuat produk dan atau jasa. Jika dijalankan sebagai sebuah industri atau usaha ekonomi, mau tidak mau akan terkait dengan pengambilan risiko.

Hal itulah yang membuat hubungan industri kreatif dan wirausaha sangat berbeda. Dalam cetak biru Industri Ekonomi Kreatif disebutkan bagaimana ekonomi kreatif bekerja serta presentasi konsep triple helixuntuk fondasi pilar ekonomi kreatif. Inti dasar konsep itu adalah sinergi antara pemerintah, pengusaha, dan kaum intelektual yang menyangkut pengembangan ekonomi kreatif.

Karena itu, menurut Rhenald, pemerintah dan masyarakat perlu memikirkan kembali makna pembelajaran, yaitu apakah untuk membebaskan diri dari berbagai belenggu dengan cara lebih terbuka, atau hanya untuk memintarkan secara akademis.

‘’Tentu jauh lebih baik membebaskan mereka dari ketertutupan daripada membesarkan orang-orang pintar, tetapi otaknya tertutup,’‘ ujar Rhenald, yang juga ketua Program Magister Manajemen Universitas Indonesia (UI).

Ia mengutip ucapan Albert Einstein, ‘’Ukuran kecerdasan manusia sebenarnya terletak pada kemampuannya untuk berubah.’‘ Itulah makna kecerdasan, yang terkait erat dengan keterbukaan berpikir. Jadi, berpikir kreatif agar bisa melaju tenang di tengah badai krisis global. (*)

Pudarnya Hegemoni AS, Mitos atau Realitas? November 26, 2008

Posted by zakyalhamzah in Ekonomi.
add a comment
Rabu, 26 November 2008 pukul 08:50:00

Elba Damhuri
Wartawan Republika

Dewan Intelijen Nasional AS (NIC) belum lama ini merilis hasil risetnya tentang kepemimpinan global Amerika Serikat (AS). Mereka menyatakan dominasi dan hegemoni kekuatan ekonomi, politik, dan militer AS akan merosot tajam pada 2025. Pada sisi lain, dunia akan melihat kekuatan baru: Cina, Rusia, dan India.

Jelas, hasil penelitian ini tidaklah mengejutkan. Pada dasawarsa 1980-an, kalangan ilmuwan dan peneliti internasional telah berdebat hebat tentang posisi AS. Jatuhnya sistem Bretton Woods dan dilepasnya dolar AS bukan sebagai ‘mata uang tunggal internasional’, mereka indikasikan sebagai jatuhnya hegemoni AS dalam politik global.

Lahirnya negara-negara industri baru yang selama era 1944-1970-an dibesarkan AS melalui Marshall Plan dan Bretton Woods juga berpengaruh terhadap keruntuhan hegemoni global AS. Jerman dan Jepang menjadi faktor penting yang memunculkan pandangan tentang runtuhnya kekuasaan AS di percaturan internasional.

Robert Gilpin termasuk tokoh dan ilmuwan AS terdepan yang menyampaikan tesis tentang runtuhnya kekuasaan Amerika itu. Keruntuhan itu, kata Gilpin, berdampak langsung pada stabilitas ekonomi politik global dan tidak berjalannya sistem dunia baru yang didasarkan pada liberalisasi ekonomi dan penyebaran nilai-nilai demokrasi Barat.Padahal, bagi kaum realist seperti yang diemban Gilpin dan kawan-kawan, tata politik dunia memerlukan sebuah pemimpin atau hegemon. Charles Kindleberger, meneliti sejarah dan sebab-musabab Depresi Hebat 1929, juga memberikan kesimpulan serupa: dunia butuh pemimpin tunggal.

Keruntuhan kapitalisme global dan kekuasaan AS, bagi Immanuel Wallerstein, pencetus teori sistem dunia yang begitu mengagumi ajaran Marx, akan terjadi tidak lama lagi. Pada 2020-an atau 2030 kapitalisme global yang dipimpin AS akan jatuh dan digantikan sistem ekonomi politik yang baru.Betulkah kepemimpinan global AS telah memudar? Betulkah negara-negara baru seperti Cina dan India mampu menggantikan atau menyaingi kekuasaan AS?

Hingga hampir 30 tahun perdebatan itu berlangsung, memang belum ada penjelasan dan jawaban memuaskan atas isu tersebut. Masing-masing memiliki latar belakang penjelasan yang berdiri pada kerangka yang berbeda-beda meski tujuannya sama.Saya mengambil satu sudut pandang yang saya kira cukup komprehensif dalam melihat persoalan ini, yakni argumen pendekatan kekuasaan struktural ala Susan Strange, profesor politik ekonomi di London School of Economics. Kata Strange, untuk melihat kekuasaan global AS tidak lagi bisa dilihat dari pendekatan relational power.

Dominasi sebuah negara tidak bisa lagi dijamah dengan melihat perintah-perintah. Sebagai contoh, sudah bukan zamannya untuk mendesak negara lain yang lebih lemah agar melakukan sesuatu yang diinginkan negara yang lebih kuat. Tidak bisa lagi AS, misalnya, memaksa Iran atau Saudi Arabia untuk menggunakan dolar AS sebagai mata uang perdagangan internasional.Strange memperkenalkan pendekatan struktural (structural power) yang tidak bisa berdiri sendiri. Ada empat kekuatan struktural yang bisa dijadikan acuan untuk mengetahui apakah sebuah negara memiliki kekuasaan global atau tidak.

Sebuah negara yang hanya memiliki satu atau dua kekuatan seperti militer dan keuangan, tidak bisa disebut berkuasa atas politik internasional. Keempat kekuatan itu saling mendukung dan terintegrasi membentuk satu pengaruh yang melahirkan negara adikuasa atau hegemon. Keempatnya adalah kekuasaan produksi, keuangan, militer, dan pengetahuan.

Dari sisi produksi, perusahaan-perusahaan Amerika Serikat masih berandil besar dalam memasok produk-produk manufaktur dan jasa produksi baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun produksi global. Dunia memang berubah di mana produksi tidak lagi dikerjakan di dalam negeri AS. Tetapi, itu tetap tidak mengurangi daya saing dan daya mampu produksi global negeri Paman Sam itu.

Hubungan produksi ini memiliki arti penting karena menyangkut aktivitas ekonomi yang berujung pada soal kesejahteraan. Marx menyebutnya sebagai hubungan produksi yang menjadi inti dari kehidupan manusia. AS menyadari arti penting ini dan sejak era 1900-an terus memperkuat fundamental industri mereka, yang sempat menjadi negara utama dengan 70 persen tingkat produksi global.

Dari sisi keuangan, terasa sekali aliran-aliran investasi dunia sangat tergantung pada AS. Dolar AS masih menjadi pemain utama meski euro dan yen Jepang terus membaik. Hingga akhir 2007 total perdagangan dan investasi dunia dengan menggunakan dolar AS masih di atas 60 persen. Jumlah ini memang menyusut dari sebelumnya 90 persen, tetapi dolar AS tetap memperlihatkan kuasanya sebagai mata uang paling berpengaruh.

Pada struktur militer sudah terlihat sangat jelas betapa sampai saat ini belum ada negara yang mampu menandingi AS. Anggaran militer AS, termasuk riset dan teknologi canggih, lebih dari separuh anggaran militer global. Jumlah tentara AS yang menyebar di seluruh dunia pun cukup banyak di mana belum ada negara lain yang melakukan itu.

Begitupun dalam inovasi pengetahuan khususnya di bidang teknologi dan sains, AS masih diperhitungkan. Riset-riset dalam dunia medis, sebagai contoh, telah melahirkan perusahaan-perusahaan besar yang tidak hanya mampu menyokong pertumbuhan ekonomi AS, tetapi juga dunia. Strange percaya jika keempatnya masih dimiliki AS, meski saat ini krisis besar menghantam negeri itu dan seluruh dunia tentunya.

Bagaimana dengan perang Irak, defisit AS yang besar, dan runtuhnya simbol kapitalisme global: hancurnya perusahaan-perusahaan? Sejak era 1970-an, AS sudah mengalami defisit neraca pembayaran dan terus naik di era Pemerintahan Ronald Reagan. AS juga pernah hancur dalam Perang Vietnam dan beberapa konflik internasional di Afrika dan Asia.Namun semua itu bisa diatasi dengan baik meski ada gejolak di sana-sini. Itu sama sekali tidak menghilangkan peran AS sebagai pusat kekuasaan dunia walaupun pada saat itu banyak kalangan menyatakan bahwa dunia telah memasuki era jatuhnya hegemoni AS.

Yang terjadi hingga 20 tahun ke depan, AS masih memiliki kekuatan struktural untuk mendominasi dunia. Memang muncul kekuatan-kekuatan baru yang bisa saja ‘mengganggu’ kepemimpinan AS, seperti munculnya Jepang dan Jerman Barat di era 1970-an. Kekuatan-kekuatan seperti Cina dan Rusia itu bakal memberikan pengaruh besar pada tata politik ekonomi dunia. AS pun akan terganggu dengan kehadiran mereka, tetapi bukan berarti mereka tidak berdaya. Dominasi tetap berada dalam genggaman mereka. (*)

” Bersama Kita Bisa ‘Naikkan BBM’? “ Mei 16, 2008

Posted by zakyalhamzah in Ekonomi.
add a comment

Kenaikan BBM membuktikan jika pemerintah belum berpihak rakyat, kebijakan ekonomi liberal membuat pemerintah ‘berjarak’ dengan rakyat.

Ini sangat menggelikan ketika materi janji-janji politik yang diucapkan pemimpin bangsa ini pada Pilpres 2004 lalu selalu mengatakan ”Bersama Kita Bisa” tuntaskan persoalan bangsa..sebagian gaji akan disetorkan untuk rakyat, pemerintah akan memberikan pendidikan gratis, dan bla bla blaa…

Mungkin benar tagline ”Bersama Kita Bisa” disampaikan saat itu, tapi selanjutnya ”Bisa apa?” Bersama Kita Bisa menaikkan harga BBM…?

Memang siapapun yang memimpin saat ini tentu dihadapkan pada posisi sulit untuk tidak mengambil kebijakan menaikkan harga BBM, ditengah kenaikan harga minyak mentah dunia. Namun yang menjadi pertanyaan mendasar warga, apakah pemerintah tidak memiliki persiapan jangka panjang mengantisipasi sejak 1-2 tahun lalu ?

Di negeri ini menetap ratusan hingga ribuan tenaga ahli energi, pertambangan, serta pakar ekonomi global, sangat mungkin diantara mereka pernah memberikan sinyal waspada pada pemerintah untuk mempersiapkan kenaikan harga BBM satu-dua tahun lalu, supaya kekhawatiran berlebihan di tahun 2008 ini tidak menggelegar saat ini.

Aneh bin ajaib, absurd bin kadal dan sontoloyo dengan kepintaran para ahli-ahli tersebut, pemerintah tidak segera mengambil kebijakan antisipatif. Mengapa yang dirugikan kok warga miskin yang tidak punya akses atau simpanan duit sebesar Rp 10 ribu saja di kantong celananya ?

Sebagai rakyat kecil, pasti bertanya dimana pemerintah saat ini? apa yang dilakukan dn dipikirkan pemerintah demi kesejahteraan masyarakatnya ? Lebih memihak kaum kaya atau kaum miskin, atau memang tidak perlu ada pemerintah supaya dinilai memang begitu adanya, daripada ada pemerintah tapi seakan-akan ‘tidak ada’ ?

Hasil konkret yang dibutuhkan rakyat saat ini adalah, harga BBM tidak naik, tapi bisa dilakukan moratorium utang luar negeri…tidak perlulah Badan Intelejen Negara (BIN) menuduh ada yang menungganggi aksi demo…yaitu politikus, pengamat dan si itu si ini…..padahal, tanpa ada yang mem-back up pun tanpa ada yang men-danai pun, rakyat sudah PASTI turun kalau urusan perut belum tuntas…anak-anaknya tidak bisa sekolah, mau kemana-mana mahal karena ongkos ojek naik dua kali lipat…

Jika kalangan menengah dan atas belum bereaksi, ya itu sangat amat wajar, mereka tidak lapar, stok makanan di kulkasnya masih utuh hingga dua tahun, kalau habis? ya masih bisa didapat dari pangan impor, kalau ada kerusuhan? ya tinggal lari ke rumah kedua atau ketiga di Singapura atau Inggris atau Austria atau AS, atau dimana para perusuh tidak bisa mengejarnya…tapi jika urusan bisnis mereka di-ganggu, ya sangat pasti mereka akan ikut turun, berdemo, meneriakan soal kepentingannya juga… 

Pertanyaannya, bisakah pemerintah sekarang mengeluarkan kebijakan ”Bersama Kita Bisa menunda pembayaran hutang demi tidak menaikkan harga BBM ?” atau ”Bersama Kita Bisa memangkas biaya operasional yang tidak perlu asal BBM tidak naik?”

Pertanyaan itu wajib ditunggu jawabannya sebelum perut rakyat kecil ber-bunyi lebih nyaring…..BIN juga bisa kok bantu menjawabnya…

Pemerintah Dinilai Kurang Serius Kembangkan BBN Mei 9, 2008

Posted by zakyalhamzah in Ekonomi.
Tags:
add a comment

JAKARTA—Pemerintah dinilai kurang serius dalam pengembangan Bahan Bakar Nabati (BBN). Hal itu terlihat kurang tingginya produksi dan penyerapan BBN. Target produksi biofuel 5 persen dipastikan tidak akan tercapai. Akibatnya, jumlah perusahaan yang beroperasi terus berkurang dan mengurangi investor baru masuk ke pengembangan BBN.

Demikian disampaikan Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Cakrawan dalam acara Rapat Koordinasi Pangan Nasional Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, bertajuk ‘Ketahanan pangan untuk kesejahteraan masyarakat’, di Hotel Shangri-La, Jakarta, Sabtu (29/3)

Dalam paparannya, Paulus mengungkapkan pengembangan biofuel di Indonesia masih jauh tertinggal dengan Singapura yang sudah sangat maju di sektor biofuel.

“Singapura memproduksi BBN lebih besar dari Indonesia, kalau kebijakan pemerintah tidak ada perbaikan dan keseriusan, maka suatu saat Indonesia akan impor BBN dari Singapura,” bebernya.

Paulus melaporkan saat ini tinggal empat perusahaan biofuel yang masih beroperasi, dari sebelumnya 10 perusahaan. Sedang, perusahaan yang beroperasi di bioethanol tinggal 3 perusahaan. Menurut Paulus, berkurangnya perusahaan itu karena produk BBN belum mempunyai pasar yang jelas.

Sementara itu, meski saat ini dilaporkan sebanyak 70 calon investor biofuel telah mendaftarkan rencana investasi di Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), namun ternyata belum melakukan realisasi investasi.

Investor itu menilai kebijakan pengembangan bahan bakar nabati (BBN) di Indonesia belum memiliki kepastian.

“Ada 70 yang sudah daftar di BKPM akhirnya belum realisasikan karena masih menunggu kepastian dari pemerintah terutama soal ketersedian pasar biofuel,” katanya.

Ke-70 calon investor tersebut banyak didominasi oleh investor dalam negeri dan beberapa investor asing. “Bukan hanya industrinya saja, bahan baku pengembangan jarak juga terbentur dengan pembebasan lahan,” katanya. Saat ditanya, mengapa hal itu kurang diseriusi, Paulus balik menjawab, “ Tanyakan saja ke pemerintah.”

Paulus memastikan apabila arah kebijakan pemerintah jelas terutama dalam memberikan potensi pasar dengan adanya mandatori, maka dipastikan industri biofuel akan berkembang. “Hingga kini saya tidak tahu mau dibawa kemana pengembangan industri biofuel nasional,” keluh Paulus.

Hal itu berbeda dengan Filipina, yang sudah menandatangani mandatory pengembangan BBN sejak 2007. Kemudian diikuti Malaysia, pada bulan April nanti. Berikutnya Thailand sekitar bulan Juli 2008, dan akan diikuti negara Vietnam. ”Kita termasuk paling lambat, meski mempunyai potensi sumber daya alam yang berlimpah,” katanya.

Lebih jauh, Paulus menjelaskan sebenarnya belum terjadi perebutan komoditi bahan pangan untuk kebutuhan konsumsi dan produksi energi alternatif, seperti BBN. Karena konsumsi kebutuhan pengembangan bahan bakar nabati (BBN) di dalam negeri masih rendah.

“Sekarang ini belum terjadi perebutan lahan antara kebutuhan pangan dan energi terhadap bahan baku komoditi, bahkan pengembangan BBN bisa mendorong pengembangan bidang komoditi pangan,” katanya. Efek positif berikutnya, akan mendorong sebanyak-banyaknya pengusaha di sektor agroindustri dan membuka lapangan pekerjaan yang luas.

Ia juga mengkhawatirkan banyak kalangan yang memojokkan bahwa pengembangan BBN justru akan memakan pasokan kebutuhan komoditi pangan untuk konsumsi manusia.

Dijelaskan, Bioethanol singkong yang dipakai di dalam negeri sebanyak 1.000 kilo liter (KL) per tahun. Atau setara 0,057 persen dari stok singkong nasional atau tersedia kurang lebih 20 juta ton per tahun. Sedang, Biodiesel dari minyak sawit yang dipakai PT Pertamina hanya pakai 16.000 liter per tahun atau hanya 0,078 persen dari produksi 17,5 juta ton. Sementara, sawit untuk makan hanya membutuhkan sebanyak 4 juta ton (23 persen). Sisanya, diekspor.

”Jadi, sebenarnya masih sangat amat kecil pemakaian bahan pangan untuk BBN. Tapi, banyak pihak meributkan produksi BBN akan mengancam stok pangan nasional,” katanya. Pihaknya justru menyayangkan kebijakan pemerintah yang masih mengandalkan impor energi berupa minyak sekitar 70 juta ton per hari, daripada mengembangkan produksi BBN, sebagai alternatif. Padahal, harga minyak mentah dunia terus naik.

Saat ditanya, apa yang harus dilakukan pemerintah untuk pengembangan BBN, menurut Paulus, untuk bisa melindungi produsen biofuel dalam negeri, dibutuhkan adanya kebijakan pemerintah yang konsisten dan berpihak pada pengembangan BBN, diantaranya dengan mandatori.

“Pemerintah perlu mengatur berapa komposisi penggunaan pangan dan energi, pemerintah Filipina dan Thailand sudah melakukan mandatori BBN lebih dahulu, kita sudah tertinggal,” jelasnya.

Paulus menekankan pengembangan biofuel sangat penting terutama bagi negara berkembang dalam hal memperbaiki keseimbangan devisa dan ketahanan energi. Dari semua sumber energi terbarukan, Biomass –bahan baku BBN– merupakan satu-satunya bahan baku yang relatif dapat diubah langsung menjadi bahan bakar, sebagai subtitusi BBM.  * zaky al hamzah *