jump to navigation

Pudarnya Hegemoni AS, Mitos atau Realitas? November 26, 2008

Posted by zakyalhamzah in Ekonomi.
trackback
Rabu, 26 November 2008 pukul 08:50:00

Elba Damhuri
Wartawan Republika

Dewan Intelijen Nasional AS (NIC) belum lama ini merilis hasil risetnya tentang kepemimpinan global Amerika Serikat (AS). Mereka menyatakan dominasi dan hegemoni kekuatan ekonomi, politik, dan militer AS akan merosot tajam pada 2025. Pada sisi lain, dunia akan melihat kekuatan baru: Cina, Rusia, dan India.

Jelas, hasil penelitian ini tidaklah mengejutkan. Pada dasawarsa 1980-an, kalangan ilmuwan dan peneliti internasional telah berdebat hebat tentang posisi AS. Jatuhnya sistem Bretton Woods dan dilepasnya dolar AS bukan sebagai ‘mata uang tunggal internasional’, mereka indikasikan sebagai jatuhnya hegemoni AS dalam politik global.

Lahirnya negara-negara industri baru yang selama era 1944-1970-an dibesarkan AS melalui Marshall Plan dan Bretton Woods juga berpengaruh terhadap keruntuhan hegemoni global AS. Jerman dan Jepang menjadi faktor penting yang memunculkan pandangan tentang runtuhnya kekuasaan AS di percaturan internasional.

Robert Gilpin termasuk tokoh dan ilmuwan AS terdepan yang menyampaikan tesis tentang runtuhnya kekuasaan Amerika itu. Keruntuhan itu, kata Gilpin, berdampak langsung pada stabilitas ekonomi politik global dan tidak berjalannya sistem dunia baru yang didasarkan pada liberalisasi ekonomi dan penyebaran nilai-nilai demokrasi Barat.Padahal, bagi kaum realist seperti yang diemban Gilpin dan kawan-kawan, tata politik dunia memerlukan sebuah pemimpin atau hegemon. Charles Kindleberger, meneliti sejarah dan sebab-musabab Depresi Hebat 1929, juga memberikan kesimpulan serupa: dunia butuh pemimpin tunggal.

Keruntuhan kapitalisme global dan kekuasaan AS, bagi Immanuel Wallerstein, pencetus teori sistem dunia yang begitu mengagumi ajaran Marx, akan terjadi tidak lama lagi. Pada 2020-an atau 2030 kapitalisme global yang dipimpin AS akan jatuh dan digantikan sistem ekonomi politik yang baru.Betulkah kepemimpinan global AS telah memudar? Betulkah negara-negara baru seperti Cina dan India mampu menggantikan atau menyaingi kekuasaan AS?

Hingga hampir 30 tahun perdebatan itu berlangsung, memang belum ada penjelasan dan jawaban memuaskan atas isu tersebut. Masing-masing memiliki latar belakang penjelasan yang berdiri pada kerangka yang berbeda-beda meski tujuannya sama.Saya mengambil satu sudut pandang yang saya kira cukup komprehensif dalam melihat persoalan ini, yakni argumen pendekatan kekuasaan struktural ala Susan Strange, profesor politik ekonomi di London School of Economics. Kata Strange, untuk melihat kekuasaan global AS tidak lagi bisa dilihat dari pendekatan relational power.

Dominasi sebuah negara tidak bisa lagi dijamah dengan melihat perintah-perintah. Sebagai contoh, sudah bukan zamannya untuk mendesak negara lain yang lebih lemah agar melakukan sesuatu yang diinginkan negara yang lebih kuat. Tidak bisa lagi AS, misalnya, memaksa Iran atau Saudi Arabia untuk menggunakan dolar AS sebagai mata uang perdagangan internasional.Strange memperkenalkan pendekatan struktural (structural power) yang tidak bisa berdiri sendiri. Ada empat kekuatan struktural yang bisa dijadikan acuan untuk mengetahui apakah sebuah negara memiliki kekuasaan global atau tidak.

Sebuah negara yang hanya memiliki satu atau dua kekuatan seperti militer dan keuangan, tidak bisa disebut berkuasa atas politik internasional. Keempat kekuatan itu saling mendukung dan terintegrasi membentuk satu pengaruh yang melahirkan negara adikuasa atau hegemon. Keempatnya adalah kekuasaan produksi, keuangan, militer, dan pengetahuan.

Dari sisi produksi, perusahaan-perusahaan Amerika Serikat masih berandil besar dalam memasok produk-produk manufaktur dan jasa produksi baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun produksi global. Dunia memang berubah di mana produksi tidak lagi dikerjakan di dalam negeri AS. Tetapi, itu tetap tidak mengurangi daya saing dan daya mampu produksi global negeri Paman Sam itu.

Hubungan produksi ini memiliki arti penting karena menyangkut aktivitas ekonomi yang berujung pada soal kesejahteraan. Marx menyebutnya sebagai hubungan produksi yang menjadi inti dari kehidupan manusia. AS menyadari arti penting ini dan sejak era 1900-an terus memperkuat fundamental industri mereka, yang sempat menjadi negara utama dengan 70 persen tingkat produksi global.

Dari sisi keuangan, terasa sekali aliran-aliran investasi dunia sangat tergantung pada AS. Dolar AS masih menjadi pemain utama meski euro dan yen Jepang terus membaik. Hingga akhir 2007 total perdagangan dan investasi dunia dengan menggunakan dolar AS masih di atas 60 persen. Jumlah ini memang menyusut dari sebelumnya 90 persen, tetapi dolar AS tetap memperlihatkan kuasanya sebagai mata uang paling berpengaruh.

Pada struktur militer sudah terlihat sangat jelas betapa sampai saat ini belum ada negara yang mampu menandingi AS. Anggaran militer AS, termasuk riset dan teknologi canggih, lebih dari separuh anggaran militer global. Jumlah tentara AS yang menyebar di seluruh dunia pun cukup banyak di mana belum ada negara lain yang melakukan itu.

Begitupun dalam inovasi pengetahuan khususnya di bidang teknologi dan sains, AS masih diperhitungkan. Riset-riset dalam dunia medis, sebagai contoh, telah melahirkan perusahaan-perusahaan besar yang tidak hanya mampu menyokong pertumbuhan ekonomi AS, tetapi juga dunia. Strange percaya jika keempatnya masih dimiliki AS, meski saat ini krisis besar menghantam negeri itu dan seluruh dunia tentunya.

Bagaimana dengan perang Irak, defisit AS yang besar, dan runtuhnya simbol kapitalisme global: hancurnya perusahaan-perusahaan? Sejak era 1970-an, AS sudah mengalami defisit neraca pembayaran dan terus naik di era Pemerintahan Ronald Reagan. AS juga pernah hancur dalam Perang Vietnam dan beberapa konflik internasional di Afrika dan Asia.Namun semua itu bisa diatasi dengan baik meski ada gejolak di sana-sini. Itu sama sekali tidak menghilangkan peran AS sebagai pusat kekuasaan dunia walaupun pada saat itu banyak kalangan menyatakan bahwa dunia telah memasuki era jatuhnya hegemoni AS.

Yang terjadi hingga 20 tahun ke depan, AS masih memiliki kekuatan struktural untuk mendominasi dunia. Memang muncul kekuatan-kekuatan baru yang bisa saja ‘mengganggu’ kepemimpinan AS, seperti munculnya Jepang dan Jerman Barat di era 1970-an. Kekuatan-kekuatan seperti Cina dan Rusia itu bakal memberikan pengaruh besar pada tata politik ekonomi dunia. AS pun akan terganggu dengan kehadiran mereka, tetapi bukan berarti mereka tidak berdaya. Dominasi tetap berada dalam genggaman mereka. (*)

Komentar»

No comments yet — be the first.