jump to navigation

Harapan Itu Bernama Industri Ekonomi Kreatif November 26, 2008

Posted by zakyalhamzah in Ekonomi.
add a comment

 

Zaky Al Hamzah
Wartawan Republika

“Pemerintah menyadari, saat ini ekonomi kreatif telah menjadi salah satu lokomotif perekonomian Indonesia. Ini terlihat dari pergeseran sektor pertanian, industri, jasa ke ekonomi kreatif.”

“Jadikan krisis menjadi peluang,’‘ demikian pesan penting yang disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat membuka Trade Expo Indonesia (TEI) 2008 di Pekan Raya Jakarta (PRJ), Selasa (21/10).

Ada pesan mendalam dari ucapan itu. Di tengah ancaman krisis keuangan global, dampaknya jelas menerobos sendi perekonomian Indonesia, masyarakat, termasuk pelaku usaha. Mereka dituntut bertindak, berpikir, dan bersikap ‘kreatif’.

Ada dua makna kreatif tak hanya kreatif bagaimana menyelamatkan perusahaan dari jurang keterpurukan serta bayang-bayang pemutusan hubungan kerja (PHK)pelaku usaha dituntut mengembangan produk kreatif, dan atau mampu mengemas secara kreatif. Kendati, produk itu berbahan baku sederhana supaya tetap diterima konsumen.

Menteri Perdagangan (Mendag), Mari Elka Pangestu, meng ungkapkan, peran in dustri ekonomi kreatif tak bisa dianggap remeh. Se pan jang 2002-2006, industri krea tif Tanah Air menyumbang Rp 104,6 triliun atau 6,3 persen ter hadap produk domestik bruto (PDB); dan berkontribusi 10,6 persen dari total ekspor atau senilai Rp 81,4 triliun.

Ini tentu capaian fantastis, mengingat Singapura saja, kon tribusi industri kreatif hanya 2,8 persen terhadap PDB. Sementara Inggris mencapai 7,9 persen.

‘’Tingkat partisipasi tenaga kerja di sektor ini mencapai 5,8 persen. Pada 2001, total nilai ekonomi industri kreatif Rp 2 triliun. Nilai itu diharapkan semakin berkembang apa bila nantinya pemerintah mengeluarkan kebijakan khusus bagi industri kreatif,’‘ ungkap Mari.

Karena tak bisa dibilang kecil, pemerintah akan mendukung penuh 14 sektor industri kreatif: musik dan alat musik, periklanan, arsitektur, pasar seni dan barang antik, kerajinan, disain, fashion, film, video dan fotografi, permainan interaktif, seni pertunjukan, penerbitan dan percetakan, layanan komputer dan peranti lunak, serta radio dan televisi.

Dari 14 itu, tiga kelompok besar yang bakal menjadi primadona industri kreatif adalah fashion, kerajinan, dan kriya. Pertumbuhan industri kreatif juga bisa dilihat dari perkembangan dunia film dan musik nasional.

Film layar lebar nasional yang kini mulai bangkit mampu menarik minat masyarakat. Para pelaku usaha di industri film sukses membaca pasar sehingga film mereka banyak ditonton.

Menurutnya, ada tiga amunisi penting dalam industri kreatif yang menjadi basis per tumbuhan. Ketiganya adalah peran pemerintah membuat kebijakan dan perlindungan, peran dunia usaha men dukung perkembangan industri kreatif, dan peran aktor dalam industri kreatif.

Guna mendorong pertumbuhan industri kreatif nasional, pertengahan 2008 lalu, pemerintah mengeluarkan kebijakan berupa pemberian insentif, pengaturan pinjaman bagi pelaku industri, dan perlindungan bagi pencipta industri kreatif.

Mengapa ekonomi kreatif
Ternyata, tersimpan ribuan bahkan jutaan potensi produk kreatif yang layak dikembangkan di Tanah Air. Tengok saja potensi itu: sekitar 17.500 pulau, 400 suku bangsa, lebih dari 740 etnis (di Papua saja 270 kelompok etnis), budaya, bahasa, agama dan kondisi sosial-ekonomi.

Nilai-nilai budaya luhur (cultural heritage) yang kental terwarisi, seperti teknologi tinggi pembangunan Borobudur, batik, songket, wayang, pencak silat, dan seni bu daya lain, menjadi aset bangsa. Tercatat pula, tujuh lokasi di Indonesia yang dijadikan situs pusaka dunia (world heritage site).

Belum lagi tingkat keragaman hayati (biodiversity) yang sukar ditandingi. Begitu banyak spesies yang khas dan tak dapat dijumpai di wilayah lain di dunia, seperti komodo, orang utan, cendrawasih. Tak ketinggalan, hasil budidaya rempah-rempah, seperti cengkeh, lada, pala, jahe, kayumanis, dan kunyit.

Semua itu bila diarahkan menjadi industri ekonomi krea tif, tentu membuahkan hasil luar biasa. Apalagi, era saat ini mengarah pada ekonomi kreatif, setelah era gelombang pertanian, gelombang industri, dan gelombang informasi, seperti teori Alvin Toffler, berlalu.

‘’Pemerintah menyadari, saat ini ekonomi kreatif telah menjadi salah satu lokomotif perekonomian Indonesia. Ini terlihat dari pergeseran sektor pertanian, industri, jasa ke eko nomi kreatif,’‘ jelas Mendag.

Dalam konteks itu, pengembangan seni, inovasi teknologi, dan kewirausahaan men jadi kata kunci. Karenanya tak heran, jika di tengah kekha watiran lesunya dunia bisnis padat modal, harapan kini tertuju pada ekonomi kreatif.

Namun, upaya kreatif bagi produsen serta pelaku usaha kecil maupun menengah tak bisa berjalan sendiri. Agar target pertumbuhan ekonomi jangka pendek, menengah, hingga jangka panjang tercapai, di saat bersamaan jajaran pemerintah pusat dan daerah harus membantu.

Regulasi dan deregulasi yang mendorong produktivitas serta membunuh ekonomi biaya tinggi, tentu sangat mem bantu mereka. ‘’Ubah kri sis ini menjadi peluang,’‘ kata Presiden, mengulang.

Ekonomi Kreatif, Pariwisata, dan Tenaga Kerja

Ekonomi kreatif, kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, merupakan satu dari tiga sektor yang dapat mendorong perekonomian Indonesia di saat ekonomi dunia melambat. Dua sektor lain, yaitu pariwisata serta tenaga kerja yang handal, terampil, dan berbudaya. Tiga sektor ini, punya potensi cukup besar, keunggulan serta peluang devisa yang tinggi. ‘’Tiga bidang itu selama beberapa tahun terakhir menunjukkan kemajuan pesat. Potensinya masih ada sehingga perlu didorong untuk mencapai sasaran,’‘ ujar Presiden.

Sektor ekonomi kreatif, tambahnya, menjadi salah satu sektor yang berkontribusi cukup besar kepada negara. Terbukti dari perannya yang enam persen terhadap PDB. ‘’Sektor ekonomi kreatif kita sudah berjalan dengan benar, dan tahun ini pemerintah sudah menyusun road map-nya,’‘ kata SBY.

Kini, tinggal sinkronisasi kebijakan. ‘’Saya ingin lebih banyak yang mengenal ekonomi kreatif kita, baik di dalam maupun luar negeri. Untuk itu pen ting d ijaga momentum pertumbuhan yang baik ter sebut.’‘

Lebih jauh Presiden mengajak membangun kemitraan secara ekonomi. Kekhasan yang tinggi, mutu produk yang bagus, memberi keunggulan tersendiri bagi hasil karya Indonesia. Dengan saling mengenal produk luar negeri, akan dapat dipetakan peluang yang ada.

‘’Saya jamin produk Indonesia bagus. Tidak perlu ragu menjalin kerja sama dengan kita,’‘ kata Presiden mengajak pengusaha dari luar negeri memasarkan produk kreatif Indonesia. Sektor pariwisata, lanjutnya, menjadi sesuatu yang perlu difokuskan mengingat kekayaan dan potensi yang ada.

Mendag mengungkapkan, industri kreatif mampu menyerap tenaga kerja 5,4 juta pekerja yang tersebar pada 22 juta perusahan. Jumlah ini setaraatau 5,2 persen dari perusahaan yang ada di Indonesia.

Kepala Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN), Bachrul Chairi, menambahkan, industri kreatif nasional sudah lama menjadi program penting pemerintah. Para pelaku industri kreatif seharusnya memperoleh dukungan penuh pemerintah agar ide-ide kreatif terus berkembang.

‘’Pelaku industri kreatif jangan dipersulit ketika meminjam modal ke bank. Terlebih pelaku industri kreatif biasanya tidak memiliki jaminan khusus, mengingat barang yang diciptakan berbentuk ide bukan benda,’‘ pintanya.

Depdag menargetkan pada 2010 dapat mencetak 200 brandatau merk industri kreatif. Bachrul Chairi optimistis jumlah itu tercapai, meningat sejumlah produk kreatif seperti animasi, batik, periklanan, dan perfilman saat ini telah menjadi brandIndonesia di luar negeri.

‘’Contohnya batik yang telah menjadi ikon Indonesia, kerajinan tangan beragam bahan baku dari kayu, rotan, kulit kerang, serta plastik. Yang membanggakan lagi, film-film animasi buatan anakanak bangsa sudah banyak dipesan pelaku industri film di AS serta Jepang,’‘ katanya.

Sebagai bentuk dukungan, sekitar 700 produk hasil industri telah dipatenkan Depdag. Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) produk kreatif juga diurus pihaknya. ‘’Ini supaya produk dalam negeri terlindungi dari klaim negara lain,’‘ jelasnya.

Dirjen Industri Kecil dan Menengah Depperin, Fauzi Aziz, mengatakan, perlindungan hukum terhadap pelaku usaha industri kreatif harus ditegakkan. Salah satu upaya yang terus dijalankan adalah sosialisasi HAKI kepada pelaku usaha.

HAKI akan menjamin setiap pengusaha dari tuntutan hukum dan kerugian. Fauzi menyebutkan, identifikasi hasil industri yang belum mendaftarkan produknya terus dilakukan agar tak ada klaim negara lain.

Sejarah Ekonomi Kreatif di Indonesia

Perkembangan ekonomi kreatif di dorong dengan diluncurkannya program Indonesia Design Power (IDP) pada 2006. IDP merupakan program untuk meningkatkan daya saing produk-produk Indonesia di pasar domestik maupun ekspor.

Selama kurun waktu 10 tahun terakhir, sektor ekonomi kreatif makin berkembang pesat di beberapa kota besar. Melalui inisiatif komunitas anak muda di sejumlah kota, seperti Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta.

Benih yang memicu pertumbuhan ekonomi kreatif di tingkat lokal telah mam pu me lahirkan karya film, animasi, fashion, mu sik, software, gamekomputer, dan sebagai nya. Beberapa di antara pelaku ekonomi krea tif ini malah mendapatkan kesempatan menam pilkan karyanya di ajang internasional.

Istilah ekonomi kreatif pertama kali didengungkan tokoh bernama John Howkins, penulis buku Creative Economy, How People Make Money from Ideas.Dia seorang yang multiprofesi.

Selain sebagai pembuat film dari Inggris, ia juga aktif menyuarakan ekonomi kreatif kepada pemerintah Inggris sehingga banyak terlibat dalam diskusi-diskusi pembentukan kebijakan ekonomi kreatif di kalangan peme rintahan negara-negara Eropa.

Menurut Howkins, definisi ekonomi krea tif adalah kegiatan ekonomi di mana inputdan outputnya adalah gagasan. Tokoh berikutnya seorang doktor dibidang ekono mi, Dr Richard Florida, dari Amerika, penulis buku The Rise of Creative Classdan Cities and the Creative Class. Dia menyuarakan tentang industri kreatif dan kelas kreatif di masyarakat.

Pemenang nobel di bidang ekonomi, Robert Lucas, mengatakan kekuatan yang menggerakan pertumbuhan dan pembangunan ekonomi kota atau daerah dapat dilihat dari tingkat produktivitas klaster orangorang bertalenta dan orang-orang kreatif atau manusia-manusia yang mengandalkan kemampuan ilmu pengetahuannya.

Mendag, Mari Pangestu, menjelaskan, me lalui ekonomi kreatif inilah pemerintah terus mencari upaya pengembangan akses pasar ekspor, baik ekspor jasa maupun produk. Salah satu yang didorong pengembangan ekspor jasa adalah potensi ekono mi kreatif yang menyumbang 6,3 persen PDB dan berkontribusi 10,6 persen dari total ekspor nasional.

‘’Kendati ada kekhawatiran dalam suasana ketidakpastian perekonomian dunia, pemerintah tetap optimistis ekspor perdagang an kita tetap tumbuh signifikan,’‘ ujar Men dag pekan lalu.

Krisis ekonomi dunia akan memengaruhi perekonomian Indonesia, khususnya ekspor. Meski hingga kini pertumbuhan ekspor sampai Agustus 2008 masih 30 persen, sehinga target pertumbuhan ekspor 12,5 persen tahun ini dapat tercapai. ‘’Beberapa bulan ke depan, perlambatan ekonomi dunia mulai terasa,’‘ katanya.

Selain kebijakan fiskal, moneter, perbank an, dan pasar saham, pemerintah, kata Mendag, akan merespons pertumbuhan sektor riil. Sejumlah upaya yang dilakukan, yakni menjaga daya saing dan menfasilitasi ekspor dengan menjamin efisiensi arus barang dan arus dokumen, menekan ekonomi biaya tinggi.

Kemudian, meningkatkan efektivitas dari promosi produk dan jasa-jasa Indonesai ke luar. ‘’Pemerintah juga melakukan promosi untuk mendiversifikasi pasar dan produk secara terarah dan strategis,’‘ katanya.

Di tengah lesunya industri padat modal, industri kreatif diharapkan menjadi penyelamat perekonomian Indonesia mengingat produk itu tak bergantung 100 persen pada pasar konvensional, seperti AS, Eropa, maupun Jepang.

Contohnya, kerajinan mebel berbahan kulit kerang yang sebagian besar pasar ekspornya justru di Spanyol, Italia, Perancis, dan Jerman. Di Asia, pasar produk ini bertebaran di Korea Selatan dan Filipina.

Ketua Umum Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Aprisindo), Ambar Tjahyono, sangat mendukung upaya pemerintah mencari celah pasar ekspor di saat pasar tradisional AS, Eropa, dan Jepang, mandeg. ‘’Meski target transaksi tak tercapai, tapi upaya mencari pasar-pasar baru ini patut kita dukung.’‘

Langkah lain pemerintah, sambung Mendag, adalah melanjutkan negoisasi dan pendekatan menjamin akses pasar, mengatasi berbagai hambatan yang dihadapi eksportir dalam negeri. Pemerintah berusaha keras menjaga iklim investasi, meski pelambatan ekonomi dunia mendorong investor menunda investasinya di Indonesia.

Staf khusus Mendag yang ikut mengembangkan
cetak biru ( blue print)Industri Ekonomi Kreatif, Rhenald Kasali, mengatakan industri kreatif pada intinya membuat produk dan atau jasa. Jika dijalankan sebagai sebuah industri atau usaha ekonomi, mau tidak mau akan terkait dengan pengambilan risiko.

Hal itulah yang membuat hubungan industri kreatif dan wirausaha sangat berbeda. Dalam cetak biru Industri Ekonomi Kreatif disebutkan bagaimana ekonomi kreatif bekerja serta presentasi konsep triple helixuntuk fondasi pilar ekonomi kreatif. Inti dasar konsep itu adalah sinergi antara pemerintah, pengusaha, dan kaum intelektual yang menyangkut pengembangan ekonomi kreatif.

Karena itu, menurut Rhenald, pemerintah dan masyarakat perlu memikirkan kembali makna pembelajaran, yaitu apakah untuk membebaskan diri dari berbagai belenggu dengan cara lebih terbuka, atau hanya untuk memintarkan secara akademis.

‘’Tentu jauh lebih baik membebaskan mereka dari ketertutupan daripada membesarkan orang-orang pintar, tetapi otaknya tertutup,’‘ ujar Rhenald, yang juga ketua Program Magister Manajemen Universitas Indonesia (UI).

Ia mengutip ucapan Albert Einstein, ‘’Ukuran kecerdasan manusia sebenarnya terletak pada kemampuannya untuk berubah.’‘ Itulah makna kecerdasan, yang terkait erat dengan keterbukaan berpikir. Jadi, berpikir kreatif agar bisa melaju tenang di tengah badai krisis global. (*)

Mari Menyalahkan Amerika November 26, 2008

Posted by zakyalhamzah in Politik Kita.
add a comment

Anif Punto Utomo
Wartawan Republika

Krisis global sudah membikin derita ratusan juta manusia di bumi ini. Siapa yang pantas disalahkan? Ada yang mengatakan kita tidak perlu saling menyalahkan. Mari kita hadapi bersama kesulitan ini. Tapi, itu tidak adil karena ada pihak yang secara jujur harus dikatakan sebagai penyebab menderitanya masyarakat seluruh dunia, yakni Amerika!

Kita tahu bahwa krisis ini berawal dari pemberian kredit perumahan di Amerika kepada konsumen yang kurang layak diberi pinjaman. Karena itu disebut subprime mortgage untuk mereka yang layak disebut prime mortgage. Tak kurang dari 1,2 triliun dolar AS digelontorklan untuk kredit tak layak ini, kemudian ketika suku bunga naik, pengembalian seret, hasilnya 600 miliar dolar macet.

Efek dari macetnya kredit tersebut berimbas ke institusi keuangan lain karena kredit tersebut disekuritisasi melalui penciptaan derivatif yang disebut CDO (collateralized debt obligation), semacam surat utang. Penjualan itu dilakukan secara berantai sehingga ketika ujungnya sakit, maka semua rentetannya akan merasakan dampaknya.

Apa yang terjadi berikutnya adalah kebangkrutan beberapa bank investasi dan lembaga keuangan lainnya. Di Amerika, Lehman Brother mendadak bangkrut. AIG, asuransi terbesar di belahan bumi ini, harus diselamatkan pemerintah. Freddie Mac dan Fannie Mae, kreditor terbesar juga diselamatkan pemerintah. Tak kurang Pemerintah Amerika mengucurkan 700 miliar dolar untuk menyelamatkan perekonomian mereka.

Cepat merambat
Krisis di Amerika itu dengan cepat merambat ke berbagai belahan dunia. Eropa terkena dampak terparah dari krisis ini. Beberapa bank nyaris kolaps sehingga harus diselamatkan. Di Inggris pemerintah menganggarkan  rescue plan664 miliar dolar termasuk mengeluarkan 55 miliar dolar AS untuk menyelamatkan tiga bank. Jerman mengucurkan 664 miliar dolar AS, 68 miliar dolar di antaranya untuk bailout pinjaman real estate. Belanda terpaksa menyelamatkan Fortis.

Kenyataannya tak hanya sektor keuangan yang tumbang karena pada fase berikutnya sektor riil pun terkena imbasnya. General Motor di Amerika terancam bangkrut jika pemerintah tidak memberi suntikan dana. Opel di Jerman juga perlu mendapat jaminan dari pemerintah untuk mampu membayar utang-utangnya. Masih banyak yang lain sehingga bailout yang dilakukan separuhnya digeser ke sektor riil, bukan cuma sektor finansial.

Asia mau tak mau juga terkena dampaknya. Jepang dan Korea yang banyak terkait dengan Amerika dan Eropa dalam urusan ekspor, terseret cukup dalam di pusaran krisis global ini. Hong Kong dan Singapura juga terpuruk sehingga pertumbuhan ekonomi mereka akan terpangkas. Cina meski terkena juga, tapi relatif masih perkasa. Indonesia sendiri meski ekonomi tetap tumbuh cukup dipusingkan dengan krisis ini.

Ketika perusahaan bertumbangan, otomatis PHK-pun terjadi di mana-mana. Bangkrutnya beberapa perusahaan di Amerika, baik institusi keuangan maupun industri lain termasuk otomotif, memaksa 1,2 juta orang di-PHK. Di Jerman ratusan ribu orang dipecat, Siemens saja sejauh ini telah memecat 17 ribu karyawan. Di Singapura pun sudah mulai terjadi gelombang pemecatan.

Tak terkecuali Indonesia. Perusahaan baja sudah siap merumahkan ribuan karyawan. Perusahaan sepatu dan tekstil yang banyak mengandalkan pasar Amerika dan Eropa sudah mulai memangkas karyawan dan jumlah pemangkasan akan bertambah lagi karena permintaan merosot. Belum lagi hasil pertanian seperti kelapa sawit dan juga kerajinan rakyat. Puluhan ribu, bahkan mungkin ratusan ribu pegawai terancam PHK.

Krisis global ini semakin tampak nantinya pada pertumbuhan ekonomi. Amerika dan Eropa yang paling terpukul dengan krisis ini dan akan mengalami pertumbuhan rendah, bahkan sebagian negatif pada 2009. Eropa rata-rata akan tumbuh negatif 0,5 persen, Amerika lebih parah sekitar 0,9 persen. Jepang juga negatif 0,1 persen.

Memang beberapa negara Asia meski terimbas masih mampu mencatat pertumbuhan lumayan. Cina meski turun masih di kisaran sembilan persen. Indonesia dengan segala keterbatasannya masih tumbuh enam persen, pertumbuhan tertinggi di wilayah Asia Tenggara. India juga masih tumbuh relatif baik. Sementara Singapura dan Malaysia yang banyak mengandalkan ekspor dan memiliki keterkaitan jasa keuangan yang tinggi ke Amerika akan mengalami pertumbuhan rendah.

Karena itu pula Cina, India, Indonesia, dan kemudian ditambah Brasil menjadi diperhitungkan dalam kancah perekonomian dunia. Skala ekonomi di empat negara tersebut cukup besar dan masih tumbuh dengan baik. Dengan begitu negara yang masuk <I>emerging market<I> ini akan menjadi penopang bagi pertumbuhan ekonomi dunia setelah Amerika, Eropa, dan Jepang terperosok ke dalam depresi ekonomi. Pergeseran peta kekuatan tersebut muncul dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-20 di Washington.

Di sisi lain, negara kecil seperti Islandia, Pakistan, dan beberapa negara di Afrika misalnya, makin megap-megap dengan krisis ini. Tak pelak mereka pun harus menadahkan tangan ke IMF untuk mengucurkan dana penyelamatan. Tentu IMF dengan senang hati karena dalam dua tahun terakhir ini banyak negara peminjam yang mengembalikan sebelum jatuh tempo, termasuk Indonesia.

Krisis ini memang memberikan pelajaran sangat berharga bagi dunia, tentu khususnya bagi Amerika. Negara adikuasa yang selama ini menjadi polisi dunia seenaknya sendiri dalam mengatur dunia, termasuk dalam mengatur perekonomian dunia. Mereka merusak tatanan ekonomi negara berkembang lewat tangan-tangan mereka, baik di Bank Dunia maupun di Dana Moneter Internasional (IMF).

Amerika merupakan embahnya yang menurut istilah John Perkin – adalah para bandit ekonomi (economic hitman). Mereka memorakporandakan ekonomi negara berkembang dengan memberikan pinjaman agar negara tersebut memiliki ketergantungan terhadap lembaga internasional yang sudah dikuasai Amerika. Nantinya Amerika yang akan menuntut berbagai perlakuan khusus sebagai bayaran atas pinjaman tersebut.

Amerika juga yang menjadi pengkhianat Bretton Wood di mana saat itu salah satu kesepakatannya adalah mengaitkan mata uang dolar dengan persediaan emas dengan harga konversi 33 dolar per ons. Jadi jika mereka akan menerbitkan dolar, maka harus tersedia juga emas setara dengan nilai dolar yang diterbitkan. Karena tak mampu menjaga kurs, Presiden Nixon pada 1971 langsung membatalkan kesepakatan Bretton tersebut.

Pencabutan itu kemudian menjadikan Amerika bisa mencetak dolar tanpa batas. Komoditas ekspor terbesar Amerika saat ini adalah kertas yang bernama dolar. Mereka tidak peduli dengan dobel defisit (anggaran belanja dan neraca perdagangan), karena mereka bisa menutup defisit itu dengan mencetak dolar.

Hukum alam berjalan dengan sempurna. Kini Amerika sedang menerima hukuman atas ulahnya sendiri. Inilah krisis terbesar di Amerika setelah Great Depression pada 1929 silam. Bedanya, kali ini krisis ini merembet ke seluruh dunia sehingga ratusan juta orang harus hidup sengsara. Jadi tak salah memang kalau semua telunjuk mengarahkan ke Amerika sebagai biang keterpurukan kolektif seluruh negara di bumi ini.

Pudarnya Hegemoni AS, Mitos atau Realitas? November 26, 2008

Posted by zakyalhamzah in Ekonomi.
add a comment
Rabu, 26 November 2008 pukul 08:50:00

Elba Damhuri
Wartawan Republika

Dewan Intelijen Nasional AS (NIC) belum lama ini merilis hasil risetnya tentang kepemimpinan global Amerika Serikat (AS). Mereka menyatakan dominasi dan hegemoni kekuatan ekonomi, politik, dan militer AS akan merosot tajam pada 2025. Pada sisi lain, dunia akan melihat kekuatan baru: Cina, Rusia, dan India.

Jelas, hasil penelitian ini tidaklah mengejutkan. Pada dasawarsa 1980-an, kalangan ilmuwan dan peneliti internasional telah berdebat hebat tentang posisi AS. Jatuhnya sistem Bretton Woods dan dilepasnya dolar AS bukan sebagai ‘mata uang tunggal internasional’, mereka indikasikan sebagai jatuhnya hegemoni AS dalam politik global.

Lahirnya negara-negara industri baru yang selama era 1944-1970-an dibesarkan AS melalui Marshall Plan dan Bretton Woods juga berpengaruh terhadap keruntuhan hegemoni global AS. Jerman dan Jepang menjadi faktor penting yang memunculkan pandangan tentang runtuhnya kekuasaan AS di percaturan internasional.

Robert Gilpin termasuk tokoh dan ilmuwan AS terdepan yang menyampaikan tesis tentang runtuhnya kekuasaan Amerika itu. Keruntuhan itu, kata Gilpin, berdampak langsung pada stabilitas ekonomi politik global dan tidak berjalannya sistem dunia baru yang didasarkan pada liberalisasi ekonomi dan penyebaran nilai-nilai demokrasi Barat.Padahal, bagi kaum realist seperti yang diemban Gilpin dan kawan-kawan, tata politik dunia memerlukan sebuah pemimpin atau hegemon. Charles Kindleberger, meneliti sejarah dan sebab-musabab Depresi Hebat 1929, juga memberikan kesimpulan serupa: dunia butuh pemimpin tunggal.

Keruntuhan kapitalisme global dan kekuasaan AS, bagi Immanuel Wallerstein, pencetus teori sistem dunia yang begitu mengagumi ajaran Marx, akan terjadi tidak lama lagi. Pada 2020-an atau 2030 kapitalisme global yang dipimpin AS akan jatuh dan digantikan sistem ekonomi politik yang baru.Betulkah kepemimpinan global AS telah memudar? Betulkah negara-negara baru seperti Cina dan India mampu menggantikan atau menyaingi kekuasaan AS?

Hingga hampir 30 tahun perdebatan itu berlangsung, memang belum ada penjelasan dan jawaban memuaskan atas isu tersebut. Masing-masing memiliki latar belakang penjelasan yang berdiri pada kerangka yang berbeda-beda meski tujuannya sama.Saya mengambil satu sudut pandang yang saya kira cukup komprehensif dalam melihat persoalan ini, yakni argumen pendekatan kekuasaan struktural ala Susan Strange, profesor politik ekonomi di London School of Economics. Kata Strange, untuk melihat kekuasaan global AS tidak lagi bisa dilihat dari pendekatan relational power.

Dominasi sebuah negara tidak bisa lagi dijamah dengan melihat perintah-perintah. Sebagai contoh, sudah bukan zamannya untuk mendesak negara lain yang lebih lemah agar melakukan sesuatu yang diinginkan negara yang lebih kuat. Tidak bisa lagi AS, misalnya, memaksa Iran atau Saudi Arabia untuk menggunakan dolar AS sebagai mata uang perdagangan internasional.Strange memperkenalkan pendekatan struktural (structural power) yang tidak bisa berdiri sendiri. Ada empat kekuatan struktural yang bisa dijadikan acuan untuk mengetahui apakah sebuah negara memiliki kekuasaan global atau tidak.

Sebuah negara yang hanya memiliki satu atau dua kekuatan seperti militer dan keuangan, tidak bisa disebut berkuasa atas politik internasional. Keempat kekuatan itu saling mendukung dan terintegrasi membentuk satu pengaruh yang melahirkan negara adikuasa atau hegemon. Keempatnya adalah kekuasaan produksi, keuangan, militer, dan pengetahuan.

Dari sisi produksi, perusahaan-perusahaan Amerika Serikat masih berandil besar dalam memasok produk-produk manufaktur dan jasa produksi baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun produksi global. Dunia memang berubah di mana produksi tidak lagi dikerjakan di dalam negeri AS. Tetapi, itu tetap tidak mengurangi daya saing dan daya mampu produksi global negeri Paman Sam itu.

Hubungan produksi ini memiliki arti penting karena menyangkut aktivitas ekonomi yang berujung pada soal kesejahteraan. Marx menyebutnya sebagai hubungan produksi yang menjadi inti dari kehidupan manusia. AS menyadari arti penting ini dan sejak era 1900-an terus memperkuat fundamental industri mereka, yang sempat menjadi negara utama dengan 70 persen tingkat produksi global.

Dari sisi keuangan, terasa sekali aliran-aliran investasi dunia sangat tergantung pada AS. Dolar AS masih menjadi pemain utama meski euro dan yen Jepang terus membaik. Hingga akhir 2007 total perdagangan dan investasi dunia dengan menggunakan dolar AS masih di atas 60 persen. Jumlah ini memang menyusut dari sebelumnya 90 persen, tetapi dolar AS tetap memperlihatkan kuasanya sebagai mata uang paling berpengaruh.

Pada struktur militer sudah terlihat sangat jelas betapa sampai saat ini belum ada negara yang mampu menandingi AS. Anggaran militer AS, termasuk riset dan teknologi canggih, lebih dari separuh anggaran militer global. Jumlah tentara AS yang menyebar di seluruh dunia pun cukup banyak di mana belum ada negara lain yang melakukan itu.

Begitupun dalam inovasi pengetahuan khususnya di bidang teknologi dan sains, AS masih diperhitungkan. Riset-riset dalam dunia medis, sebagai contoh, telah melahirkan perusahaan-perusahaan besar yang tidak hanya mampu menyokong pertumbuhan ekonomi AS, tetapi juga dunia. Strange percaya jika keempatnya masih dimiliki AS, meski saat ini krisis besar menghantam negeri itu dan seluruh dunia tentunya.

Bagaimana dengan perang Irak, defisit AS yang besar, dan runtuhnya simbol kapitalisme global: hancurnya perusahaan-perusahaan? Sejak era 1970-an, AS sudah mengalami defisit neraca pembayaran dan terus naik di era Pemerintahan Ronald Reagan. AS juga pernah hancur dalam Perang Vietnam dan beberapa konflik internasional di Afrika dan Asia.Namun semua itu bisa diatasi dengan baik meski ada gejolak di sana-sini. Itu sama sekali tidak menghilangkan peran AS sebagai pusat kekuasaan dunia walaupun pada saat itu banyak kalangan menyatakan bahwa dunia telah memasuki era jatuhnya hegemoni AS.

Yang terjadi hingga 20 tahun ke depan, AS masih memiliki kekuatan struktural untuk mendominasi dunia. Memang muncul kekuatan-kekuatan baru yang bisa saja ‘mengganggu’ kepemimpinan AS, seperti munculnya Jepang dan Jerman Barat di era 1970-an. Kekuatan-kekuatan seperti Cina dan Rusia itu bakal memberikan pengaruh besar pada tata politik ekonomi dunia. AS pun akan terganggu dengan kehadiran mereka, tetapi bukan berarti mereka tidak berdaya. Dominasi tetap berada dalam genggaman mereka. (*)